Yoel Cari Kerjaan Baru (1/2) — The Curhat

TLDR: Postingan ini lebih isinya curhatan menye-menye dari gua. Kalau lu mau baca yang lebih less feeling dan isinya practical lesson learned dari journey gua, skip to this second part of the post.

Tiga bulan terakhir gua lagi cari pekerjaan baru. Orang-orang suka bilang “Ah lu ma pasti gampang kalau cari kerjaan, el!”. I thought so too… sampai gua mengalami sendiri penolakan dari 48+ perusahaan.

Ini statistik kotornya:

  • Gua apply ke 36+ perusahaan sendiri, either lewat easy apply di LinkedIn atau lewat situs perusahaannya. Yes, I was that desperate. (Expedia, Airbnb, Getir, Gorilla, Flink, GoTrade, Binance, Kraken, Ikea, Foodpanda, N26, Miro, Trustpilot, Decathlon, Lululemon, Ubisoft, Realtor, Omio, Canyon, OLX Group, Bumble, Playstation, HP, Mailchimp, Algolia, Lego, City Bank, Salesforce, Canva, Atlassian, Doordash, Just Eat Takeaway, Adobe, Rakuten, Monzo, VanMoof)

Statistik di atas seems neutral but… kalau gua jadiin funnel data -> 52 aplikasi-> 18 interview pertama-> 10 final step -> 4 offer, meaning:

  • Gua harus ngerasain 32 kali dealing with my insecurity karena even resume gua bikin gua gagal untuk interview pertama

It was one of the loneliest and most tiring journey I have ever experienced.

Then, why it was that dang hard. I feel that I know my stuffs and I am confident that I am good at my shits. Di dalam perjalanan yang keep challenging my self security itu, I need to keep reassuring me with this one fact: ada resiko yang tinggi yang harus perusahaan ambil untuk mempekerjakan seseorang di posisi managerial dari luar negeri.

Kenapa gitu? Ini 4 analisis gua tentang resiko tinggi untuk kasih offer ke gua:

  • Familiarity Bias: they are not familiar with Indonesia, neither Bukalapak or tiket.com. Pengalaman gua di design leadership hanya ada di dua perusahaan ini. Gua bayangin kalau ada design director di Twitter lihat aplikasi gua, kemungkinan besar dia akan berpikir “What the eff is this Bukalapak or tiket.com? Do all designers get VP and SVP titles there? Do Indonesians know how to design? And where the eff is Indonesia? Africa?” lol. Ga percaya?

Coba lu bayangin kalau lu dapet CV lamaran dari “VP of Design from BKash/Chaldal in Bangladesh”. What is your first reaction? Pasti lu mengeryitkan mata dan harus fighting your bias toward your perceived kualitas apapun yang berasal dari “Bangladesh” dan nama yang asing seperti “Chaldal”. Hiring manager yang punya banyak waktu akan mencoba googling apa itu Chaldal and mungkin bisa nemuin kalau Chaldal atau BKash adalah perusahaan tech unicorn legit di Bangladesh. But for most hiring managers, menurut gua ya mereka akan ambil shortest path untuk processing kandidat lain dari negara atau perusahaan2 lain yang dia lebih familiar.

  • Benefit gw sekarang tinggi banget kalau dibandingkan dengan non-US tech compensations. I think net salary gua sekarang ga beda jauh sama net salary tech person di Sillicon Valley sana. Jumlah ESOP yang gua dapet juga ga sedikit. Both of these current salary and ESOP can be a high barrier for those companies to hire me.

Seorang design director di Meta waktu gua kasih tau my current compensation bilang ke gua “Itu tinggi banget. Mending lu stay di company lu sekarang kalau gua jadi lu. Design director di Meta London mungkin earn half of what you earn at the moment”. Gw bayangin hiring manager/ recruiter ketika tau gaji gua yg sekarang, mungkin mereka malah males and memilih jalur lain yang lebih efisien. “Ngapain gua mau buang waktu sama kandidat ini. Budget buat role gw cmn 30% dari yang dia earn sekarang. Pasti nanti repot harus nego2. Mana ini dia darimana? Indonesia? Di mana yah itu? Bukalapak? tiket.com? Ini opo yah?”. There you go my second barrier: my own golden handcuff.

  • Hassle untuk hiring orang dari Wakanda. Kalau mereka terima gua, mereka harus bantu urusin visa kerja gua juga, lewatin birokrasi untuk buktiin ke sarikat pekerja dan pemerintah Eropa kalau emang ga ada kandidat Eropa lainnya, nungguin waktu aplikasi visa kerja yang bulanan, dan bayar lebih mahal buat kasih budget relocation, hire relocation agent, dan immigration agent. Sementara di negara mereka mungkin ada puluhan kandidat lain yang bisa langsung mulai kerja di tempat mereka dalam waktu 1 bulan….

Jadi in summary, ini pertandingan gua dalam 3 bulan terakhir ini: seorang head of design dari negara antah berantah, dari perusahaan yang susah dilafalkan namanya, yang ga tau apa title “SVP”nya legit, plus dengan current benefit yang lebih dari 2x benefit design director di Meta London mau cari perusahaan yang posisi design director/head/VP nya lagi kosong dan mau ngeluarin duit banyak untuk hire foreigner dan repot untuk nunggu bulanan urusin foreigner ini pindah ke negaranya sembari melihat ada puluhan aplikasi kandidat lain dengan last name yang mereka sangat familiar, yang bisa siap pindah kerja dalam 1 bulan.

Beberapa minggu lalu gua bikin sebuah thread di twitter tentang bagaimana barrier org tech di Indo untuk tembus ke luar negeri sekarang itu lebih kecil. Skill orang-orang kita jauh lebih kompetitif. Tapi menurut gua barrier untuk posisi managerial ini bisa lebih tinggi. Karena berbagai pertimbangan resiko di atas.

Kalau ga keep reminding me with the above fact, gua udah bisa depresi abis sih di setiap kegagalan dan ghostingan perusahaan2 itu. Sampai pacar gua udah tau aja kalau sex drive gua lagi non-existent berarti gua lagi beating those imposter syndrome temptation I got, everytime I received a rejection letter. Beneran berasa semesta stacking the odds against me.

Ya gitu aja sih. Tulisan part 1 ini cuman buat curhat. Buat kasih konteks tapi lebih untuk ngeluarin apa yang gua rasain dan alamin dalam 3 bulan terakhir ini. Postingan part duanya akan lebih tactical. Gw akan tulis lesson learned gw selama menjalani perjalanan cari kerjaan ini. See you there!

Cheers,

Yoel

(Kalau lu pernah ngalamin titik terendah waktu lagi job hunting, semoga tulisan gua ini bisa bikin lu berasa ga sendiri. I feel you)

PS: Kenapa cari kerjaan baru el? PS: Apakah ada push dari tempat gua kerja sekarang? None at all. To be honest, tempat kerja sekarang gua salah satu the best working place I have experienced. Tim designnya salah satu nurut gua yang culturenya kuat banget. My main reason emang beneran pengen “belajar” lagi ke luar. Untuk tim design yang sekarang, gua bakal masih jadi consultant/advisor untuk mereka nantinya. Dipekerjakan secara part-time. Dan gua percaya banget sama 3 co-design leaders yang bakal lead teamnya. Salah tiga design leaders yang paling kuat yang pernah gua tau. #bangga

--

--

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Yoel Sumitro

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel