Vulnerability in Sharing

Gw udah beberapa kali dirujak masal di Twitter. Karena gw bahas kasus food delivery ojol atau karena gw bahas drakor. Karena tweet2 gw, gw tau juga ada orang-orang yang ga suka secara personal ama gw.

Gw tau ada beberapa orang ga suka ama gw karena apa yang gw pernah share di acara-acara talk. Setelah mendengar paparan gw dalam sebuah talk, pernah ada satu orang yang kirim pesan ke anak di tim design gw “Wah semoga kamu baik2 saja yah dek (di timnya Yoel)” — dengan nada agak sinis.

Di sisi lain, gw juga lihat orang-orang saling suka dan sebel personal orang karena pendapat yang kita lontarkan di Twitter atau kita tulis di Medium. Pernah gw ngobrol dengan orang A, how someone bisa ga suka banget sama A just because of his tweets.

Terkadang gw jadi mikir, gila yah, segitunya. Orang bisa sampai di level ga suka , sebuah perasaan yang kuat, akan pribadi seseorang dari hanya membaca tulisannya.

Tapi kalau gw pikir-pikir lagi ya masuk akal sih. Orang ga suka sama orang lain biasanya karena ada perbedaan value. Nilai-nilai yang berlawanan. Dan ya dari tweet-tweet, talk-talk, tulisan di medium seperti ini, orang lain bisa sedikit tau nilai gw. Ketika nilai-nilai yang gw sampaikan ini berbeda dengan nilai-nilai yang dipercaya oleh sang pembaca. Si pembaca bisa tersinggung ketika nilainya terancam (salah). Reaksinya bisa menjadi hostile untuk mempertahankan nilainya bagaimanapun caranya. Dan ya paling mudah ya menyerang sang pembawa pesannya. “Ah si Yoel ini emang orangnya asshole, ga masuk akal banget yang diomonginnya”. Cognitive dissonance dengan pakai trik ad hominem.

Karena resiko ini, kadang gw berpikir — ah ngapain gw terbuka akan pikiran gw di social media yah, mending gw diem2 aja. Ga akan ada orang yang secara personal bakal benci gw kalau ga ada yang tau nilai gw. Ga kadang sih, lumayan sering mikir gitu. Apalagi kalau lagi “diserang” atau tau ada orang yang bisa sebel ama gw cuman karena tulisan gw.

But then gw teringat lagi sama salah satu kata-kata temen gw “Salah satu hal yang terbesar yang bisa lu kontribusikan ke dunia ini adalah vulnerability lu.”

Dan menurut gw, dari setiap tweet yang gw tulis, artikel medium yang gw publish, dan talk yang gw kasih, gw sedang memberikan vulnerability itu. Orang yang gw ga kenal bisa tau apa yang gw rasa dan pikir. Mereka bisa lihat juga sesat pikir gw atau perubahan prinsip (berubah karena prinsip yang lama kurang tepat/ngaco) yang gw punyai. Gw membiarkan diri untuk dirujak masal. Harus siap mental kalau dikata2in “Ngadi-ngadi” “Ngawur” “Tolol” sama anak manajemen trainee. 💩

Jadi ya buat kamu yang juga merasakan ga enaknya buat being vulnerable for the sake of keep sharing your ideas, minds, and experience: hang in there! It’s a good dose of daily adrenaline. 😃

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel