People don’t quit a job— they quit a boss?

Saying ini lumayan terkenal di dunia permanajeran. Tapi menurut gw saying ini ga sepenuhnya benar sih.

Bertahun-tahun terakhir gw amati bahwa people quit a job ya bukan karena manajernya. Ada banyak kasus dimana mereka punya hubungan relasi yang bagus banget sama manajernya dan tapi ya mereka tetap quit aja.

Pake contoh gw aja, gw udah enam kali quit a job di dalam hidup gw, dan semuanya ga ada hubungannya sama manajer gw. I did have a good relationship with all of them.

Jadi menurut gw saying “People don’t quit a job — they quit a boss” ini ga terlalu valid. Gw perhatiin juga bahwa saying ini juga put too much pressure ke para manajer. Ketika ada salah satu direct report mereka yang resign, mereka jadi berasa bersalah. Mulai berpikir “Ada yang salah apa yah sama gw? Koq anak ini resign”.

The truth is people quit a job because of many complex reasons. Bisa karena bosnya, bisa karena tipe pekerjaannya, bisa karena ada kesempatan lain yang lebih menarik, bisa karena alasan keluarga, bisa karena bossnya managernya, bisa karena alasan logistik, bisa karena rasa bosan, bisa karena gabungan berbagai macam alasan yang kompleks.

Saying “People don’t quit a job — they quit a boss” adalah sebuah sesat pikir yang meng-simplifikasi bahwa keputusan kompleks yang orang buat hanya berdasarkan satu alasan saja (single cause fallacy). I hope people, terutama manajer atau design leads, ga terlalu percaya hal ini. So that you don’t put unnecessary burden on the things you can’t really control.

Yoel

(Pernah lihat kasus dimana satu designer resigned bukan karena manajernya, tapi karena manajernya manajernya — which is manajernya manajernya = gw. ;p )

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel