Obsesi dengan Angka di Dunia Produk/Desain

“Berapa NPS scorenya?” “Berapa emang jumlah orang yang kasih feedback kalau fitur scrollingnya kurang oke?” “3 dari 7 participant tidak melihat dimana menu Akun” “Gimana yah caranya mendesain berdasarkan data kuantitatif?”

Ujaran di atas sering gw denger dalam berbagai macam versi. Tapi intinya sama -> banyak orang di dunia teknologi terobsesi sama angka, big data, dan data kuantitatif.

Ketika kita memakai data yang tidak memakai angka atau dengan jumlah data set yang kecil, ke-rigor-an keputusan atau aktivitas kita dipertanyakan.

Menurut gw ini salah satu obsesi yang kurang sehat sih. Kaya orang junkie yang do everything hanya karena cuman mau kelihatan meyakinkan dengan angka. Seperti kasus NPS misalkan, udah jelas2 tool itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, tapi mayoritas masih obsesi untuk memakai itu. Cara menampilkan usability testing result juga, masih pada obsesi untuk memakai angka untuk riset kualitatif itu.

Menurut gw, data tanpa angka dan dengan jumlah data set yang kecil namun sangat kaya isinya bisa saja sudah cukup untuk menjadi sebuah basis argumen. Ini yang disebut sebagai “thick data” (lawannya adalah thin data -> data berupa angka objektif akan sebuah peristiwa)

Di bukunya The Interpretation of Cultures, Clifford Geertz mengenalkan konsep “thick behavior” -> yang merupakan deskripsi bagaimana sebuah perilaku dilihat dari konteks budaya di sekitarnya. Argumen lainnya dari Christian Madsbjerg (di bukunya “The Moment of Clarity: Using the Human Sciences to Solve Your Toughest Business Problems”) dia bilang bahwa “sebagian besar kehidupan kita dikelilingi oleh thick data”. Atau dengan bahasa lain, kebanyakan keputusan yang kita ambil itu juga berdasarkan thick data saja.

Contohnya gini. Pernah ga kita merasa “Wah keadaan kantor lagi ga enak nih. Moodnya lagi gloomy” lalu kita mengambil keputusan untuk resign. Atau kita berpikir “Wah kenapa pacar gw moodnya lagi ga bagus yah” lalu kita mengambil keputusan untuk comforting dia. Itu semuanya adalah thick data. Dan kita tau thick data itu sama2 validnya dan sama2 rigornya dengan data bahwa ada 8 dari 40 orang di team yang resign.

Yang ingin gw bilang adalah untuk kita lebih nyaman dengan thick data dan embracing small data sets. Bahkan ga cuman lebih nyaman tapi menurut gw, kita hanya bisa untuk bener2 customer centric dan membuat produk yang etis ketika kita menghargai thick data dari customer kita.

Yoel

(Tidak berhasil membunuh pemakaian NPS waktu di Bukalapak dulu karena budaya junkie-angka ini)

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel