Hari ini gw mampir ke sebuah sekolah Padalarang tempat gw pernah mengajar sebagai guru Calculus buat anak SMA. 12 tahun lalu gw, setiap pagi gw akan naik motor dari kost-kostan gw di daerah Ciumbuleuit, Bandung menuju sebuah sekolah di Kota Baru Parahyangan, Padalarang. Sekarang, setiap hari gw bergumul dari satu meeting ke meeting berikutnya untuk menghasilkan produk atau design yang inovatif. Gimana caranya dari guru matematika jadi kepala product design?

Pasti orang ga akan bisa melihat korelasi dari kedua profesi ini. Apalagi dari sisi kreativitas. Profesi yang satu di bawah kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif. dan profesi satunya lagi di bawah kemendikbud. Guru SMA dianggap tidak membutuhkan kreativitas di dalam pekerjaannya, sedangkan head of product design disebut sebagai pekerja kreatif.

Menurut gw, notion ini cukup salah karena kreativitas itu dibutuhkan di semua profesi. Sebagai UX Researcher misalkan, gw butuh untuk kreatif dalam memadu-padankan metode-metode riset. Perlu juga untuk berimprovisasi secara kreatif ketika ada participant yang ga datang, stuck di jalan karena macet, ke tempat yang ga aman waktu home visit, atau jumlah hasil survey yang kita dapatkan ga cukup. Ga benar kayanya kalau UX Designer berarti butuh kreatifitas lebih daripada UX Researcher. Mitos ini yang pengen gw bedah.

Mari gw mulai dengan persepsi yang paling banyak orang salah kaprah: bahwa kreativitas itu sama dengan seni. Keduanya beda banget! Lukisan da Vinci? Itu seni. Pahatan Michelangelo? Itu seni. Kertas diuwel-uwel trus dimasukin di sebuah box kaca dan ditaruh di MOMA di New York? Itu seni.

Tapi bagaimana dengan orang yang memakai alat pemukul lalat untuk gagang pembayar e-toll? Itu kreatif. Memakai botol air minum untuk pengganti water jet ketika sedang traveling ke luar negeri? Itu kreatif. Orang yang pertama kali membuat konsep arisan di Indonesia? Sangat kreatif! Kadang orang salah kaprah, dipikir kita ga bisa/perlu kreatif karena kita ga “nyeni”. Padahal dua hal ini sangatlah berbeda.

Lalu apa itu kreativitas? Ada berbagai definisi formalnya. Salah satunya yang bilang bahwa kreativitas itu utamanya adalah bisociation atau kemampuan untuk menghubungkan dua hal yang sangat berbeda.

Tapi gw lebih suka definisi yang ini: kemampuan untuk menghubungkan ide-ide untuk menjadi konsep baru yang memecahkan sebuah masalah. Di definisi itu ada 3 hal penting: menghubungkan ide, konsep baru, dan pemecahan masalah. Ketiga hal yang cukup umum untuk semua profesi!

Mitos lainnya yang pengen gw bedah adalah kalau kreativitas itu seperti talenta yang ada sejak lahir. Sehingga karena teori ini, ada orang-orang yang memang destined buat bisa kreatif. Mitos ini bilang bahwa creativity itu efek dari nature bukan nurture.

Menurut gw, nurture lah yang lebih menentukan seberapa orang bisa menjadi lebih kreatif. Kreatifitas itu seperti otot yang bisa terus dilatih. Bukan seperti kemampuan melihat setan dan pocong yang dikasih secara random ke orang-orang tertentu.

Yoel

(Mantan guru matematika yang sekarang harus bekerja secara kreatif)

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel