Etika Desain dan Kantian

Karena gw sedang sekolah lagi tentang Filsafat, ada satu mata kuliah yang menarik tentang etika. Di salah satu kelasnya, sang dosen sedang membandingkan mazhab etika Kantian dan Utilitarian. Setelah melakukan refleksi berikutnya, gw mau melempar sebuah argumen ini: bahwa adalah sebuah ketidakcocokan ketika selama ini topik etika desain lebih sering “dijual” berdasarkan mazhab Utilitarian. Seharusnya mazhab Kantian lebih sering dipakai untuk menjual konsep etika dalam desain.

Prinsip utama etika Utilitarian, berasal dari filsuf Jeremy Bentham, adalah “greatest happiness of the greatest number”. Intinya lakukan suatu tindakan yang konsekuensi nya akan menghasilkan keuntungan/manfaat paling besar bagi mayoritas manusia. Prinsip utilitarian ini lumayan sering dipakai di dunia tech product ketika seseorang ingin mempersuasi untuk melakukan sebuah proyek/ membuat sebuah produk. Bahasa-bahasa yang dipakai adalah “business metrics nya apa?” “Target KPI nya berapa?” “Berapa jumlah targeted usernya?”. Ketika ada banyak manfaat (business metric, KPI) akan jumlah yang besar (targeted user), maka sebuah produk atau feature layak untuk dibuat.

Dengan cara reasoning utilitarian di atas yang lumayan sering dipakai di dunia produk dan desain, ketika para designer ingin evangelize ethical design/universal design, secara ga sadar kita lebih sering pakai reasoning utilitarian ini. Konsep temporary, situational, dan permanent disability misalnya. Konsep ini sering dipakai designer untuk bilang “Nih liat ada BANYAK loh orang yang sebenernya mengalami disability juga.”. Atau sering ada argumen “Kalau kita bisa attract marginal users (dengan ethical dan inclusive design kita), maka KEUNTUNGAN perusahaan akan banyak didapat dari persepsi yang bagus akan perusahaan kita.”

Designer memakai konsep (user yang) BANYAK dan MANFAAT (untuk orang yang paling banyak), untuk berjualan inclusive, ethical, atau universal design.

Menurut gw ini kurang cocok sih. Karena kita jadi terpaksa menaruh label dollar pada user-user yang kita mau include atau serve with more ethical design decision ini. Prinsip utilitarian juga sangat condong pada kebutuhan mayoritas pengguna. Tindakan yang menguntungkan jumlah pengguna paling banyak — walaupun memperkosa hak-hak sebagian kecil pengguna- akan tetap dianggap beretika menurut Utilitarian. Bikin design yang lebih menguntungkan 30 juta customer Gojek tapi memberikan pengalaman yang tidak manusiawi kepada 10 juta courier Gofood, masih layak dilakukan. Karena prinsip utamanya “ya pokoknya keuntungan terbesar untuk jumlah orang yang paling banyak”.

Menurut gw mazhab Kantian lah yang seharusnya lebih dipakai untuk evangelize ethical design ini. Mazhab Kantian berlawanan dengan mazhab utilitarian dimana ia tidak menggantungkan prinsip moralnya berdasarkan konsekuensi atau manfaat dari sebuah tindakan. Tapi Ia berdasarkan kewajiban. Seorang Kantian melakukan sebuah tindakan karena ia percaya bahwa hal tersebut “baik” untuk dilakukan. Titik. Terserah mau manfaatnya apa beneran bisa baik atau apa beneran bisa berhasil memberikan konsekuensi yang baik, Kantian tidak peduli itu. Immanuel Kant berargumen bahwa “kehendak baik” adalah sebuah hal yang murni kebaikannya dan harus menjadi dasar dari perbuatan-perbuatan kita.

Lalu bagaimana seseorang bisa menilai bahwa perbuatan itu “baik”. Kant memberikan sebuah aturan sederhana “Jika kamu setuju bahwa hal ini juga bisa berlaku ke semua orang maka hal itu bisa dijadikan hukum umum — diuniversalisasikan (hal yang baik/wajib dilakukan”. Sangat dekat kan dengan konsep universal design.

Dengan prinsip ini, designer perlu melakukan ethical design bukan karena konsekuensi uang atau konsekuensi manfaat atau konsekuensi jumlah pengguna terbanyak yang akan bahagia, tapi karena prinsip sederhana ini “kalau ini adalah hal yang ingin gw dapatkan dan orang lain juga, maka hal ini baik untuk dilakukan”. Kalau gw ingin mendapatkan kehidupan yang manusiawi maka orang lain juga berhak mendapatkan kehidupan yang manusiawi (hukum umum). Titik. Kalau gw ga pengen diperkosa hak-haknya oleh design aplikasi, maka gw percaya kalau “ga pengen diperkosa hak-haknya oleh design” adalah sebuah hukum umum, sebuah kewajiban yang bisa menjadi dasar/reasoning tindakan kita.

Prinsip utama Kantian yang lainnya adalah “Perlakukan orang lain sebagai tujuan akhir (ends) dan bukan sebagai sarana (means)”. Prinsip ini menurut gw indah banget. Berlawanan dengan isi deck2 accessibility/universal/ethical design yang selalu diawali dengan bagaimana accessibility design ini bisa menghasilkan banyak manfaat untuk perusahaan. Dengan kata lain, menjadikan pengguna-pengguna itu sebagai sarana (means) saja.

Jadi kesimpulannya, menurut gw, prinsip Kantian/Deontology/Etika berdasarkan kewajiban jauuuh lebih cocok dan “baik” untuk dijadikan dasar dari mengapa kita harus melakukan universal/ethical/inclusive design. Dan please jauh2kan dari putting dollar sign to our users for this particular case.

Yoel

(Salah satu contoh prinsip utilitarian murni adalah A/B testing. Hasil paling bagus di jumlah user paling banyak, itu yang perlu diikuti. Mau designnya itu ga inclusive ke sebagian kecil user, ya ga peduli)

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.