Dua Sesat Pikir dalam Perdisenan

Menurut gw ada dua sesat pikir tentang design thinking yang pernah gw punya atau sering gw liat di kalangan perdisenan:
1. We, designers, own user experience
2. We, designers, design the best solution for our users

Let’s talk about the first notion: we, designers, own user experience. Hal ini mungkin terjadi karena profesi UX Designer lah yang mempopulerkan istilah user experience ini. Efek buruknya, semua hal yang berhubungan dengan user seakan-akan jadi tanggung jawab dan ownership-nya UX Designer.

Padahal secara praktiknya, domain kita kadang hanya terbatas pada apa yang kita design di layar sebuah handphone. Apa yang kita design di layar itu biasanya hanya beberapa puluh persen dari pengalaman pengguna produk kita. Dimulai sejak pengguna kita melihat iklan di TV, berkunjung ke application store buat mengunduh aplikasi kita, memakai aplikasi e-commerce kita, membeli barang secara online, berurusan dengan perusahaan logistik, dan berurusan dengan customer service. Gak mungkin semuanya jadi tanggung jawab kita. Gak akan sanggup menurut gw.

Efek buruk lain dari sesat pikir ini adalah “User” juga seakan jadi tanggung jawab utamanya designer dan empati ke user cuma jadi tugas mulianya UX Researcher aja. Padahal sekali lagi, kita gak akan sanggup ngerjain itu sendiri. Empathy ke user ya harus jadi milik semua product builder di perusahaan kita.

Sesat pikir yang kedua adalah bahwa kita mendesain solusi terbaik UNTUK user kita. Ini menjadikan kita sebagai kaum elitis yang memandang rendah pengguna kita. Salah satu efek buruknya kita jadi malas buat menggali problem space dan terburu-buru jumping ke solusi karena kita lah yang maha tahu. Seakan-akan kita yang paling tau mereka butuh apa, kita yang bisa menentukan kapan pengguna kita bisa ikut co-creation bareng kita dan kita yang bisa menentukan apakah pengguna kita cuman bisa ikut mengetes produk kita di akhir spektrum proses product development kita.

Jujur, sesat pikir yang kedua ini yang lebih susah ditaklukkan sih, karena keterbatasan talent dan resource kita. Idealnya, ketika kita membuat solusi untuk penjaga warung, ya kita mendesain solusi terbaik ini BERSAMA penjaga warung ini. Nah, perbedaan mindset antara UNTUK dan BERSAMA ini yang lumayan tricky batasnya. Membuat cerita sedih tentang penjaga warung untuk menumbuhkan empathy ke team kita adalah contoh design thinking yang UNTUK user kita. Sedangkan, kalau kita mengajak penjaga warung untuk datang ke kantor satu kali seminggu untuk mendesain bersama kita, itu contoh design thinking yang BERSAMA user kita. Bedanya setipis itu. Bahkan, mungkin kadang hanya mindset di belakang action kita aja yang berbeda. Action-nya mungkin sama aja dari luaran.

Yoel

(Sebagai salah satu kaum yang masih bergelut dengan sesat pikir kedua)

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - Jakarta. Tweet @ SumitroYoel

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store