Double Down Your Strength

Salah satu kunci penting dalam perkembangan karir gw di bidang design adalah double down my strength.

Jika kita berkarir sebagai in-house designer, biasanya kita gak asing dengan konsep 360 feedback dan IDP (Individual Development Plan). Di tim tiket design beberapa minggu terakhi ini kita lagi bikin IDP – plan untuk ngembangin skill kita. Selain itu biasanya setahun dua kali, perusahaan akan meminta feedback dari peer dan stakeholders tentang kinerja kita. Tentang pekerjaan kita yang berjalan dengan baik (positive feedback) dan tentang hal-hal yang perlu kita tingkatkan (negative feedback). Nah ada satu hal unik yang gw temukan setiap kali gw mendiskusikan hasil 360 feedback ini: kebanyakan orang selalu laser-focus ke bagian negatif feedback-nya.

Menurut gw respon ini sangatlah normal sih. Kita suka merasa insecure dengan kekurangan kita. Tetapi, gw akan mencoba memberikan satu ide yang kontradiktif dengan norm ini: Instead of focusing on our weaknesses, we need to self-reflect on our strengths and double down on it!

Kenapa lebih baik fokus buat ngembangin kekuatan kita?

Ada konsep yang dinamakan relative deprivation. Inti konsep itu adalah rasa berkekurangan kita itu sifatnya relatif banget sama kondisi di sekitar kita. Misalkan ada sebuah rating untuk menilai rasa sedih. Anggaplah ada dua orang, A dan B, yang sama-sama punya rasa sedih dengan rating 5. Bedanya, A memilih bunuh diri, sedangkan B memilih hidup bahagia. Kok bisa ya? Alasannya karena A dikelilingi dengan orang-orang yang lebih bahagia dari dia, sedangkan B dikelilingi oleh orang-orang yang nilai kesedihannya juga ada di rentang angka 5.

Kalau kita aplikasikan konsep relative deprivation ini di dunia karir designer yang kompetitif, maka kita mengenal konsep yang namanya “big fish in a small pond or small fish in a big pond.” Ketika kita adalah seorang good designer di antara 57 good designer lainnya, akan terasa cukup menantang buat berkembang secara karir dan skill.

Maka dari itu, dikarenakan konsep “perasaan yang relatif” ini, sebagai seorang UX professional kita harus benar-benar tau apa kekuatan kita dan fokus untuk mengembangkannya supaya kita bisa bertahan di lautan yang luas.

Pengalaman gw cukup mengonfirmasi hal ini. Ada seorang designer yang bernama Oliver di Uber. Ketika orang menyebut dia, orang akan langsung mengingat bahwa dia adalah dewanya icon designer di Uber. Oliver tau dengan benar bahwa sebagai small fish di big pond-nya Uber, dia harus benar-benar double down on his strength, yakni menggambar ikon! And yes, he became a fucking icon God at Uber.

Jadi apa kekuatanmu?

Yoel

(sedang-double-down-kekuataan-menulisnya)

SVP of Product Design @tiket.com | Ex-Bukalapak | Ex-Uber | Indonesia - Seattle - Singapore - Germany - Nomad - and finally back to Jakarta!

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store