Design as a Conversation

Yoel Sumitro
2 min readJan 17, 2022

--

Ada satu buku yang bagus banget, yang jelasin tentang bagaimana seorang profesional (termasuk designer) itu melakukan pekerjaannya dan bagaimana mereka bisa mengembangkan kemampuannya. Judul bukunya “Reflective Practicioner” oleh Donald Schoen. Buku ini telah jadi semacam Bible bagi berbagai macam profesi seperti designer.

Di buku itu ada satu bagian yang lumayan mengena buat gw. Schoen menjelaskan tentang proses komunikasi antara seorang professor arsitektur dengan muridntya dengan sangat detail. Ia menjelaskan apa yang sedang terjadi di dunia nyata, dan juga menggambarkan apa yang mungkin terjadi di dunia kognitif. Step by step. Di tahapan itu Ia sedang menjelaskan bahwa design adalah sebuah bentuk konversasi dengan objek konkrit di dalam sebuah konteks tertentu “designing as a conversation with the materials of a situation”.

Di proses “designing” itu, Schoen menggambarkan pekerjaan mendesain sebagai sebuah proses reflektif yang melingkupi kegiatan-kegiatan berikut ini:
1. Reframing a problem
2. Talking and drawing in the same time
3. Demonstrating or showing concrete works
4. Intermediate reflection
5. Shifts in stance
6. Showing domain knowledge

Ketika gw refleksi tentang bagian buku itu, gw lumayan mengamini kalau hal-hal tersebut sering terjadi ketika gw lagi melakukan design review session sama anak2 tim gw. Gw akan bilang:
1. “Bagian ini kenapa dibikinnya kaya gini? bukannya problem yg mau disolve itu A?” — reframing a problem
2. “Kaya gini nih maksud gw dengan ga jelas anak dan bapaknya di IA nya” — showing concrete works
3. “Hmm.. tapi kalau ini diklik jadinya ke sini…dan malah ke sini..ga aneh yah” — talking and drawing
4. “Kalau dari sini ke sini…hmmm..” — intermediate reflection
5. “Tadinya gw pikir lebih bagus kalau kaya gini….tapi oke juga sih solusi lu” — shifts in stance
6. “Ini Information Architecturenya mau deep atau wide?” — Showing domain knowledge

Nah ada sebuah rahasia lain: gw kalau interview IC, kadang suka pakai mode design critique ini. Gw akan minta mereka present salah satu design mereka dan ya udah deh gw berdiskusi dan berefleksi bareng kandidat ini. Dari situ “somehow” gw bisa melihat gimana otot design orang-orang ini. Awalnya mungkin metode ini terdengar subjektif. Tapi sebenernya yang gw lakuin lumayan terstruktur loh. Memakai sebuah definisi dari design nya Schoen untuk menilai crafstmanship seseorang..

Yoel

(Another big thought figure yang ngomongin tentang reflection adalah Paulo Freire)

--

--

Yoel Sumitro

Senior Director, Product Design at Delivery Hero I Ex-tiket.com, Bukalapak, Uber, adidas I Berlin I Tweet @ SumitroYoel